Friday, January 09, 2026

Servomotor dan Sistem Elektro-Hidrolik pada Steam Turbine: Aktuator Kecil Penentu Stabilitas Pembangkit


Dalam sistem pembangkit listrik tenaga uap, keandalan operasi tidak hanya ditentukan oleh komponen berskala besar seperti boiler, turbin, dan generator. Justru, kestabilan beban dan respons unit terhadap dinamika jaringan sangat bergantung pada komponen yang relatif kecil namun kritis, yaitu servomotor dan sistem elektro-hidrolik yang menggerakkannya.

Kegagalan atau keterlambatan respons pada sistem ini dapat memicu load hunting, penurunan performa unit, hingga trip turbin. Oleh karena itu, pemahaman menyeluruh mengenai peran servomotor dan prinsip kerja elektro-hidrolik menjadi aspek penting bagi engineer di bidang pembangkitan tenaga listrik.

Elektro-Hidrolik: Kombinasi Daya Besar dan Presisi Tinggi

Sistem elektro-hidrolik telah lama digunakan di berbagai sektor industri, terutama pada aplikasi yang membutuhkan gaya besar, respons cepat, serta akurasi tinggi. Sistem ini merupakan integrasi antara komponen elektrik sebagai pengendali dan sistem hidrolik sebagai penghasil gaya, dengan fluida kerja berupa zat cair—umumnya oli.

Keunggulan utama elektro-hidrolik terletak pada kemampuannya menggerakkan beban besar hanya dengan input energi yang relatif kecil. Namun, agar sistem bekerja secara optimal, aliran fluida harus dikendalikan secara presisi. Karakteristik fluida yang tidak linier menjadikan desain dan pengaturan sistem elektro-hidrolik sebagai tantangan tersendiri, khususnya pada aplikasi kritis seperti pengendalian turbin.

Prinsip Kerja Sistem Elektro-Hidrolik

Dalam sistem ini, pompa hidrolik mendorong oli dari tangki menuju katup kendali (valve). Ketika katup berada pada posisi tertutup, aliran oli terhambat sehingga tekanan dalam sistem meningkat. Untuk mencegah tekanan berlebih secara terus-menerus, katup akan membuka sesuai perintah sinyal kontrol.

Pada saat katup terbuka, piston di dalam aktuator bergerak, memungkinkan oli mengisi salah satu ruang silinder. Bersamaan dengan itu, oli dari ruang lainnya terdorong keluar menuju sistem filtrasi. Mekanisme ini menghasilkan gerakan linier yang presisi, yang kemudian dimanfaatkan untuk menggerakkan komponen mekanik seperti katup uap pada turbin.



Servomotor pada Steam Turbine

Dalam konteks steam turbine, istilah servomotor tidak merujuk pada motor listrik seperti pada sistem otomasi umum. Servomotor turbin uap adalah aktuator hidrolik, yang secara teknis lebih tepat disebut sebagai hydraulic servomotor atau electro-hydraulic actuator.

Fungsi utama servomotor adalah mengubah sinyal dari sistem governor—baik mekanik maupun elektro-hidrolik—menjadi gerakan mekanis yang mengatur posisi steam control valve, main stop valve, atau intercept valve. Dengan demikian, servomotor menjadi penghubung langsung antara sistem kontrol dan aliran energi uap menuju sudu turbin.

Posisi Servomotor dalam Sistem Kendali Turbin

Secara sistematis, servomotor bekerja dalam satu rantai kendali terpadu:

  • Setpoint kecepatan atau beban ditentukan oleh operator atau sistem jaringan.
  • Governor (DEH/EHG) memproses sinyal tersebut.
  • Sinyal kontrol diubah menjadi tekanan oli hidrolik.
  • Servomotor menggerakkan katup uap sesuai perintah.
  • Perubahan debit uap menghasilkan perubahan daya turbin.

Ketepatan dan kecepatan respons servomotor menjadi faktor kunci dalam menjaga kestabilan unit, khususnya saat terjadi fluktuasi beban atau gangguan jaringan.

Fail-Safe Mechanism: Bias Spring pada Servo valve

Pada electro-hydraulic servovalve, diterapkan sistem pengaman untuk mengantisipasi kegagalan, seperti hilangnya suplai daya atau sinyal kontrol. Sistem ini umumnya berupa bias spring (spring null-bias) yang terpasang di dalam servovalve.

Fungsi pegas ini adalah memastikan aktuator hidrolik bergerak menuju posisi aman (fail-safe) ketika kondisi abnormal terjadi. Dengan mekanisme ini, risiko overspeed dan kerusakan turbin dapat diminimalkan meskipun sistem kontrol kehilangan fungsinya.

Hydraulic Oil Supply: Tulang Punggung Sistem Kontrol

Seluruh kinerja servomotor dan servovalve sangat bergantung pada Hydraulic Oil Supply System. Sistem ini menyediakan oli hidrolik bertekanan tinggi yang digunakan tidak hanya untuk pengendalian katup uap, tetapi juga untuk sistem proteksi turbin, seperti trip oil system.

Kualitas, tekanan, dan kebersihan oli menjadi parameter kritis. Kontaminasi partikel atau air dalam oli dapat menurunkan respons servomotor, meningkatkan gesekan, dan pada akhirnya memengaruhi stabilitas operasi unit pembangkit.

Implikasi Operasional dan Tantangan Lapangan

Dalam praktik operasi, gangguan pada servomotor dan sistem elektro-hidrolik sering kali disalahartikan sebagai masalah sistem kontrol digital. Padahal, akar permasalahannya kerap berasal dari aspek mekanik dan hidrolik, seperti kebocoran internal, stiction, atau degradasi kualitas oli.

Pendekatan diagnostik yang tepat—menggabungkan analisis kontrol, inspeksi mekanik, dan manajemen oli—menjadi kunci untuk menjaga keandalan sistem turbin uap.

Referensi :

https://www.researchgate.net

Read more »

Saturday, September 20, 2025

Algomerasi pada boiler CFB

Boiler tipe Circulating Fluidized Bed (CFB) adalah sistem pemanas yang menggunakan media fluidized bed untuk menghasilkan uap. Algomerasi, atau penggumpalan partikel, dapat mempengaruhi efisiensi dan kinerja boiler. Berikut adalah beberapa hal yang perlu dipahami tentang algomerasi pada boiler tipe CFB:

  1. Penyebab Algomerasi:
    • Kualitas Bahan Bakar: Partikel yang terkandung dalam bahan bakar (seperti abu) dapat menggumpal dan membentuk lapisan pada permukaan boiler.
    • Suhu Rendah: Operasi boiler di bawah suhu kerja optimal dapat menyebabkan algomerasi.
    • Kelembaban Tinggi: Kelembaban tinggi dalam bahan bakar juga dapat memperburuk algomerasi.
  2. Dampak Algomerasi:
    • Penurunan Efisiensi: Lapisan partikel yang terbentuk mengurangi transfer panas dan mengurangi efisiensi boiler.
    • Kerusakan Pada Permukaan: Algomerasi dapat merusak permukaan boiler dan memperpendek masa pakai komponen.
  3. Cara Mengurangi Algomerasi:
    • Pemantauan Suhu: Pastikan boiler beroperasi pada suhu kerja yang optimal.
    • Penggunaan Economizer: Economizer dapat membantu mengurangi suhu gas buang dan mengurangi risiko algomerasi.
    • Pembersihan Rutin: Lakukan pembersihan permukaan boiler secara rutin untuk menghilangkan lapisan partikel.

Dampak jangka panjang dari algomerasi pada boiler tipe CFB (Circulating Fluidized Bed) dapat berdampak serius terhadap kinerja dan masa pakai sistem. Berikut beberapa dampak yang perlu diperhatikan:

  1. Penurunan Efisiensi: Algomerasi menyebabkan lapisan partikel pada permukaan boiler, mengurangi transfer panas dan efisiensi keseluruhan. Seiring waktu, penurunan efisiensi ini dapat mengakibatkan konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi dan biaya operasional yang lebih besar.

2.    Kerusakan Komponen: Lapisan partikel yang terbentuk dapat merusak permukaan boiler, termasuk pipa, tabung, dan komponen lainnya. Kerusakan ini memerlukan perbaikan atau penggantian, yang dapat mempengaruhi biaya perawatan dan masa pakai boiler.

3.    Peningkatan Risiko Korosi: Algomerasi dapat mempercepat korosi pada permukaan logam. Korosi yang tidak terkendali dapat mengurangi masa pakai boiler secara signifikan.

4.    Pengurangan Kapasitas Produksi: Jika lapisan partikel terus bertambah, kapasitas produksi boiler dapat menurun. Ini berdampak pada kemampuan sistem untuk menghasilkan uap atau panas yang dibutuhkan.

 Untuk mencegah kerusakan akibat algomerasi pada boiler tipe CFB (Circulating Fluidized Bed), berikut beberapa langkah yang dapat diambil:

  1. Pemantauan Rutin Suhu dan Tekanan:
    • Pastikan boiler beroperasi pada suhu kerja yang optimal dan tekanan yang sesuai.
    • Suhu yang terlalu rendah dapat memperburuk algomerasi, sementara suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada komponen.
  2. Pembersihan Permukaan Boiler:
    • Lakukan pembersihan permukaan boiler secara rutin untuk menghilangkan lapisan partikel.
    • Ini akan membantu mempertahankan efisiensi dan mencegah korosi.
  3. Penggunaan Economizer:
    • Economizer dapat membantu mengurangi suhu gas buang dan mengurangi risiko algomerasi.
    • Pastikan economizer berfungsi dengan baik dan terawat.
  4. Optimalkan Pemasangan Perisai Pelindung (Shields):
    • Pastikan perisai pelindung pada pipa preheater terpasang dengan baik.
    • Perisai ini membantu melindungi permukaan pipa dari partikel yang dapat menyebabkan kerusakan.
  5. Perhatikan Kualitas Bahan Bakar:
    • Gunakan bahan bakar berkualitas baik dan hindari bahan bakar yang mengandung partikel berlebihan.
    • Partikel dalam bahan bakar dapat mempercepat algomerasi.

 

Read more »

Wednesday, August 14, 2024

Belajar Boiler CFB, catat dulu...

Boiler fluidesasi memberikan kehandalan dan performance yang efisien jika dioperasikan dengan benar. Prinsip pengoperasian fluidesasi adalah keseragaman atau terjadinya fluidesasi yang merata pada bed (pasir). Ruang bakar fluidesasi terdiri dari nozzle yang mendistribusikan udara agar pasir silika dapat bergejolak dan dinding yang dilapis refractory. Udara fluidesasi didapat dari fan tekan. Pasir silica digunakan untuk material bed. Faktor yang dominan dari pasir adalah ukuran dan berate jenisnya.

Spesifikasi pasir silica harus sesuai dengan yang disarankan oleh pabrikan, jika terlalu kecil ukurannya maka pasir akan terbawa oleh hisapan ID Fan dan jika terlalu besar ukurannya maka pasir silika sukar untuk bubbling sehingga akan menyebabkan overheat dan pasir akan melting. Jika pasir sudah melting, maka harus dilakukan pergantian pasir silika total.

Pasir silika dimasukkan kedalam bed setinggi 300mm diatas permukaan nozzle dalam ruang bakar. Ketinggian ini diperlukan agar didapat fluidesasi yang merata. Kegunaan dari bed matrial adalah sebagai landasan atau untuk menenggelamkan bahan bakar yang akan dibakar didalam ruang bakar. Bed material tidak mengambil panas, tetapi menyediakan panas untuk menguapkan kadar airnya dan membakarnya. Bahan bakar akan terbakar didalam bed dan menjaga temperatur bed konstan.
Selain sebagai media transfer panas,  bed material juga berfungsi untuk menjaga nozzle yang terletak pada bagian dasar furnace agar tidak terlampau panas akibat proses pembakaran.

Read more »

Tuesday, January 16, 2024

Mengenal Chain Grate pada Boiler Stoker, mau?


Boiler stoker adalah jenis boiler yang menggunakan bahan bakar padat, seperti batu bara, biomassa, atau kayu. Sistem pembakaran pada boiler stoker menggunakan alat yang disebut chain grate.

Chain grate adalah sebuah konveyor bergerak yang terbuat dari rantai dan pelat baja. Rantai tersebut dihubungkan oleh pin dan diputar oleh motor penggerak. Pelat baja yang dipasang pada rantai berfungsi sebagai rak untuk meletakkan bahan bakar.


 

 Chain grate memiliki dua fungsi utama, yaitu:

  1. Menggerakkan bahan bakar dari hopper ke ruang bakar.
  2. Membagi bahan bakar menjadi lapisan-lapisan tipis agar pembakaran berlangsung lebih efisien.

Chain grate terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu:

  1. Furnace Chain
  2. Follower Shaft
  3. Driving Axile
  4. Ash Door & Door Frame
  5. Slag Stopper
  6. Frame
  7. Buffle Plate
  8. Gear Box

 


Rantai atau chain adalah komponen utama yang menggerakkan chain grate. Rantai tersebut harus terbuat dari bahan yang kuat dan tahan terhadap temperatur tinggi. Pelat baja yang dipasang pada rantai berfungsi sebagai rak untuk meletakkan bahan bakar. Pelat baja tersebut harus terbuat dari bahan yang tahan terhadap korosi. Pin berfungsi untuk menghubungkan rantai. Motor penggerak berfungsi untuk menggerakkan rantai. Bearing berfungsi untuk menopang rantai. Baffle berfungsi untuk mengarahkan udara panas ke bahan bakar.
Kelebihan Chain Grate :

  • Tidak membutuhkan ruang yang besar
  • Tidak membutuhkan daya listrik yang besar
  • Biaya investasi tidak terlalu mahal

 Kelemahan  Chain Grate :

  • Rentan terhadap kerusakan karena moving part berada di tempat yang temperaturnya sangat tinggi
  • Membutuhkan perawatan yang rutn
Pemeliharaan Chain Grate
Chain grate harus dirawat secara rutin untuk menjaga performanya. Pemeriksaan dan pelumasan rantai harus dilakukan secara rutin untuk mencegah kerusakan rantai. Pemeriksaan dan penggantian pelat baja harus dilakukan jika pelat baja sudah aus atau rusak. Pemeriksaan dan penggantian pin harus dilakukan jika pin sudah aus atau rusak. Pemeriksaan dan penggantian bearing harus dilakukan jika bearing sudah aus atau rusak. Pemeriksaan dan pembersihan baffle harus dilakukan untuk memastikan baffle berfungsi dengan baik.
 

Read more »

Thursday, January 11, 2024

Perusahaan Pembangkitan PLN ikut transformasi, emang boleh?


Perusahaan Listrik Negara (PLN) merupakan salah satu perusahaan BUMN terbesar di Indonesia. PLN memiliki tanggung jawab untuk menyediakan listrik yang andal dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia. Untuk memenuhi tanggung jawab tersebut, PLN terus melakukan transformasi agar dapat beroperasi secara lebih efisien, efektif, dan inovatif.
Pada tanggal 21 September 2022, PT PLN (Persero) melakukan transformasi organisasi menjadi subholdinga untuk bidang pembangkitan yaitu Indonesia Power menjadi PLN Indonesia Power (IP) dan PT Pembangkitan Jawa Bali menjadi PLN Nusantara Power. PLN IP mengelola  total kapasitas 22,9 GW sedangkan PLN NP mengelola 28,6 GW.

Anak perusahaan PLN NP pun tidak luput bertransformasi dimana PT PJB Investasi menjadi PT PLN Nusantara Renewables, PT PJB Services menjadi PT PLN Nusantara Power Services dan PT Rekadaya Elektrika menjadi PT PLN Nusantara Power Construction. Tidak luput juga perusahaan patungan dengan PLN NP dan PLN IP khusus suku cadang dari PT PLNSC menjadi PT PLN Suku Cadang.

Transformasi ini tidak hanya soal nama tetapi juga pengembangan bisnis kedepannnya seperti digital powerplant, EBT dan juga meningkatkan kualitas layanan terhadap pelanggan.

Read more »

Thursday, August 24, 2023

ASME B31.1 Power Piping, Standar Apa itu?

 Salah satu Code yang sering menjadi referensi desain piping untuk Pembangkit Listrik adalah ASME B31.1, yang merupakan bagian dari Code ASME B31 Pressure piping  tentang Power Piping.
ada gambar dapat dilihat garis pipa diatas dibagi menjadi tiga jenis:

  • Garis biasa, merupakan Piping dan Tubing pada Boiler, biasa disebut “ Boiler Proper” dan lingkup total dari Code ASME Boiler & Pressure Vessel (ASME BPV) baik dari teknikal maupun Hukum di Amerika
  •  Garis tebal, merupakan Piping dari/ke Boiler biasa disebut “Boiler External Piping” (BEP) masih menjadi Lingkup Hukum dari ASME BPV, sedangkan aspek Technical mengikuti ASME B31.1
  • Garis putus-putus, merupakan piping yang biasa disebut “Non Boiler External Piping (NBEP)” dan merupakan lingkup hukum dan Teknis dari ASME B31.1


referensi : www.pembangkitlistrik.com

Read more »

Wednesday, May 31, 2023

Apa Fungsi Close Cooling Water System

 Beberapa peralatan membutuhkan sistem pendingin tambahan karena dengan Natural Cooling tidak dapat menurunkan Temperature kerja dari peralatan tersebut, untuk itu terdapat Close Cooling Water System. Fungsi utama dari Close Cooling Water System yaitu untuk menjaga Temperature kerja beberapa peralatan agar tetap dalam kondisi normal.

Read more »

Wednesday, April 12, 2023

Metal Coating pada tube boiler, untuk apa?

Metal coating merupakan salah satu upaya pertahanan terhadap komponen tube dari abrasi pada boiler tipe CFB karena sifatnya sebagai shield / protector pada permukaan tube. Selain itu metal coating di klaim mampu mengurangi efek slagging, fouling dan korosi pada aplikasinya.


Read more »

Tuesday, February 28, 2023

Apa yang dimaksud Refractory?

Refractori adalah Suatu material di sebut “refractory“ jika ia mampu menahan api atau suhu yang sangat tinggi, secara terus menerus dalam waktu yang lama, tanpa mengalami perubahan dimensi maupun properti yang significant, dan juga tahan terhadap abrasi dan korosi pada suhu yang tinggi, baik oleh benda padat, cair dan gas. 

Definisi Refractory sesuai ASTM C 71 Yaitu suatu bahan non logam yang dengan properties dan kandungan kimia nya dapat di aplikasikan untuk membentuk struktur atau bagian dari suatu system yang ter-ekpos oleh lingkungan suhu diatas 1000 °F, 811 K, atau 538 °C.


 

Refractori dapat diKlasifikasikan berdasarkan:

1. Sifat Fisik

2. Sifat Kimia

3. Tingkat ketahanan api

download disini
ref: https://www.academia.edu/27995111/REFRACTORY


Read more »

Monday, February 06, 2023

Cofiring, meng'hijau'kan PLTU Batubara

Co-firing merupakan rencana substitusi batubara pada rasio tertentu dengan bahan biomassa seperti wood pellet, cangkang sawit dan sawdust (serbuk gergaji). Menurut penjelasan BPPT, co-firing adalah strategi menggantikan bahan pembakar penghasil uap pada PLTU dalam hal ini batu bara, dengan biomassa. Adapun biomassa yang dimaksud terdiri dari tanaman energi, sampah rumah tangga, dan lain-lain.



Read more »

Thursday, January 06, 2022

Beda Latent Superheater dengan Platen Superheater Tube Boiler


Tube superheater berguna untuk meningkatkan efisiensi siklus pembangkit listrik. superheater mengubah uap jenuh yang dihasilkan dari steam drum menjadi uap super panas dan dikirim ke turbin. Pemanas super meningkatkan suhu uap dengan menjaga tekanan konstan. uap super panas biasanya di kisaran 540 derajat Celcius.

Latent Superheater ditempatkan di bagian belakang sisi boiler. area ini memperoleh panas melalui konveksi dari gas buang. Latent Superheater adalah Superheater utama yang memanaskan uap yang berasal dari steam drum. Latent Superheater membantu untuk menghilangkan air yang terbawa, maka namanya laten. Itu ditempatkan di zona suhu rendah tungku sehingga disebut juga sebagai super heater suhu rendah. Uap dari superheater laten mengalir ke superheater platen untuk pemanasan lebih lanjut.

Platen Superheater adalah loop tunggal vertikal yang ditempatkan di furnace dengan banyak tabung paralel yang membawa uap. platen memiliki set tube yang dikemas rapat muncul seperti plate sehingga disebut platen. mereka ditempatkan di bagian atas furnace. mereka mengambil panas dengan radiasi saat ditempatkan di bagian atas furnace. Kumparan plate ditempatkan terpisah 600 mm- 1000 mm untuk menghindari pembentukan abu.

Dengan bertambahnya aliran steam maka temperatur steam dari platen superheater menurun dan dengan penurunan aliran uap suhu uap meningkat hal ini karena pada aliran uap yang lebih rendah uap menyerap panas lebih besar dan menjadi lebih panas pada beban rendah.

source : learnpowerplant.blogspot.com


Read more »

Friday, August 13, 2021

Apa yang di maksud Reverse Osmosis (RO)?

Reverse Osmosis atau RO dikenal sebagai system yang mengubah air laut menjadi air baku atau air tawar. Prinsip kerja filter reverse osmosi adalah berdasarkan pada peristiwa osmosis yang terjadi di alam. Osmosis adalah peristiwa bergeraknya air dari larutan yang mempunyai konsentrasi lebih rendah  melalui membran semi permeabel ke larutan yang mempunyai konsentrasi lebih tinggi sampai  tercapai keseimbangan.


Read more »

Sunday, August 01, 2021

Apa yang dimaksud Assessment Boiler level I (Satu)?

 

assessment dengan menggunakan data sekunder standar maupun aktual yaitu data desain dan aktual data operasi yang bertujuan untuk menganalisa kondisi peralatan dan menghasilkan rekomendasi yang berhubungan dengannya. Assessment pada tahapan ini adalah untuk memperoleh data desain dan operasional, sehingga dapat dilakukan perhitungan sisa umur untuk masing-masing komponen peralatan pembangkit. Perhitungan tersebut meliputi perhitungan umur sesuai manual dari manufaktur, perhitungan umur berdasarkan pengaruh creep life dan pengaruh fatigue life.

Read more »

Thursday, September 17, 2020

Mengenal Electostatic Precipitator (ESP)

Electrostatic Static Precipitator (ESP) merupakan alat untuk menangkap abu terbang hasil pembakaran (Fly Ash). Prinsip kerjanya adalah Fly ash yang berada pada udara sisa pembakaran yang melewati ESP diberi muatan negatif oleh discharge electroda (Particle Charging), kemudian partikel Kemudian partikel fly ash tersebut dilewatkan ke Collecting Electrode (bermuatan positif) yang menangkap fly ash / abu terbang (particle collecting).

Collecting Electrode digetarkan oleh rapper, fly ash yang menempel jatuh dan terkumpul di hopper ESP kemudian di dorong oleh udara kompresi ke fly ash silo.

Penangkapan abu terbang  mengalami tiga proses yaitu :

  1. Particle Charging ialah pemberian muatan  electron pada partikel abu yang melewati electroda negatif pada EP 
  2. Partikel Colecting ialah terkumpulnya partikel abu pada electroda positif ( Colecting Electrod ) yang selanjutnya abu yang terkumpul pada colecting electrod digetarkan/diketok  oleh Rappers Hamer dan abu jatuh terkumpul pada EP Hoppers.
  3. Material Transporting ialah pemindahan material ( abu ) dari EP Hoper ke Fly ash Silo.



 
sumber : http://puballattack.blogspot.com/

Read more »

Monday, February 11, 2019

Problem-problem di flame detector

Flame detector merupakan salah satu alat instrument berupa sensor yang dapat mendeteksi nilai instensitas dan frekuensi api dalam suatu proses pembakaran, dalam hal ini pembakaran dalam boiler pada pembangkit listrik tenaga uap. Flame detector dapat mendeteksi kedua hal tersebut dikarenakan oleh komponen-komponen pendukung dari flame detector tersebut. Cara kerja flame detector mampu bekerja dengan baik untuk menangkap nyala api untuk mencegah kebakaran.

Masalah yang umumnya sering ditemukan pada flame detector adalah sebagai berikut:
1. Lensa Flame Detector yang kotor yang disebabkan abu pembakaran batu bara. Hal ini mengakibatkan penunjukan indikator menjadi tidak tepat (fault) bahkan tidak ada penunjukan sama sekali.
2. Rusaknya card module flame detector yang juga menyebabkan penunjukan indikator pada panel flame detector di control room menjadi tidak tepat (fault).
3. Pecahnya fiber optic dalam flame detector yang berperan sebagai media transmisi.
4. Terbakarnya lensa depan flame detector.



Source : https://ruslan-instrument.blogspot.com/2012/05/flame-detector.html

Read more »

Saturday, February 09, 2019

Permasalahan pengoperasian di Boiler

Gangguan yang dapat terjadi di boiler sangat bervariasi dikarenakan sistem yang ada di boiler sangat kompleks dan saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya sehingga gangguan pada satu peralatan saja dapat mengakibatkan peralatan yang lain terganggu bahkan dapat mentripkan boiler itu sendiri.
Oleh karena itu perlu diketahui apa saja gangguan yang sering terjadi di boiler dan langkah-langkah apa saja yang harus diambil dalam rangka mengatasi gangguan yang terjadi agar efisiensi unit tetap terjaga. Beberapa jenis gangguan di boiler ada yang dapat diprediksi, seperti:
  • Gangguan supply bahan bakar
  • Gangguan drum level
  • Gangguan furnace pressure 
  • Gangguan main/reheat steam temperature 
  • Gangguan main steam pressure
Salah satu cara untuk mencegah terjadinya gangguan di boiler adalah dengan cara melakukan pengetesan peralatan dan monitoring peralatan secara berkala. Informasi kondisi peralatan di lokal dapat di monitor secara teratur oleh operator lokal, apabila terjadi kelainan maka harus segera melaporkan kondisi tersebut agar permasalahan yang terjadi tidak semakin meluas dan dapat diatasi dengan segera.
Mari kita bahas satu per satu permasalahan di boiler :

Gangguan Supply Bahan Bakar
Yaitu berupa terputusnya sebagian atau seluruh supply bahan bakar yang menuju Burner/furnace sehingga kemampuan boiler untuk memproduksi uap ke turbin menurun, hal ini bisa di sebabkan antara lain oleh:
  • Coal Bunker Level Low/Kosong 
  • Mill Trip
  • Coal Feeder Trip
Gangguan Drum Level
Fluktuasi permukaan air di dalam Drum yang di sebabkan oleh perubahan pembakaran, feed water dan beban yang signifikan, sehingga mencapai batas tertinggi (50 mm) dan terendah (50 mm).
  • Gangguan Drum level tinggi
  • Gangguan Drum level rendah
Gangguan Furnace Pressure
Terganggunya tekanan ruang bakar, hingga menyimpang dari batasan aman tertinggi/ter-endah yang di ijinkan, hal ini yang mengakibatkan kestabilan proses pembakaran, proses transportasi bahan bakar batubara ke ruang bakar dan proses pengeluaran abu batubara dari ruang bakar terganggu.
  • Gangguan Furnace pressure high.
  • Gangguan  Furnace pressure low.
  • Gangguan Furnace pressure tidak stabil.
Gangguan Main/Reheat Steam Temperature
Terjadinya penyimpangan temperature Main/Reheat steam sampai  mencapai batasan tertinggi (550 °C) atau  terendah (535 °C), sehingga mempengaruhi kualitas uap yang dihasilkan untuk memutar Turbin dan menyebabkan turunnya efisiensi thermal, dalam hal penyimpangan temperature uap yang sangat tinggi dapat menyebabkan terjadinya kelelahan bahan pada pipa superheater/reheater akibat temperature yang melebihi batas kamampuan maksimum dari pipa-pipa tersebut,
  • Gangguan Super heat steam temperature tinggi.
  • Gangguan Super heat team temperature rendah.
  • Gangguan Reheat steam temperature tinggi.
  • Gangguan Reheat steam temperature rendah.
Gangguan Main Steam Pressure
Terjadinya ketidakstabilan dari Main steam pressure, yang disebabkan oleh perubahan proses pembakaran dan beban yang signifikan.
  • Gangguan Main steam pressure tinggi.
  • Gangguan Main steam pressure rendah.
  • Gangguan Main steam pressure tidak stabil/fluxtuasi.

Read more »

Tuesday, January 29, 2019

SLAG EXTRACTOR

Dry type slag extractor merupakan sebuah konveyor plat rantai dari stainless steel. Fungsinya adalah mentransport abu kering yang dihasilkan oleh boiler.. Abu seringkali berupa padatan.
Kelebihan chain plate conveyor adalah :
•    High reliability
•    Slag berukuran besar bisa diangkut
•    Maintanance mudah
•    Mempunyai kerapatan yang bagus

Read more »

Fungsi peralatan pendukung Boiler

ID Fan A&B (Induced Draft Fan)   
Fan yang berfungsi untuk mempertahankan pressure pada furnace boiler supaya bernilai negatif dengan cara mengalirkan gas hasil pembakaran batubara pada furnace menuju stack dengan cara paksa oleh fan (ID Fan)

FD Fan A&B (Forced Draft Fan)   
Fan yang berfungsi menghasilkan udara secondary (Secondary Air) yang digunakan sebagai udara pembakaran pada furnace boiler.

ESP (Electro Static Precipitator)   
Untuk menangkap abu batubara jenis Fly Ash yang beterbangan sehingga dapat mengurangi polusi udara yang keluar pada stack.

PA Fan A&B (Primary Air Fan)   
Fan yang berfungsi sebagai penghasil udara primer (Primary Air) yang digunakan sebagai udara pengangkut serbuk batubara dari Pulverizer/Mill menuju Burner untuk dibakar di furnace.

SAH A&B (Secondary Air Heater)   
Sebagai pemanas udara secondary (Secondary Air) yang dihasilkan oleh FD Fan sebelum disalurkan pada furnace boiler.

Sootblower   
Berfungsi untuk membersihkan abu batubara yang menempel pada tube/pipa-pipa boiler sehingga efisiensi pembakaran di boiler dapat dipertahankan.

Furnace Boiler  
 
Ruangan yang berisi pipa-pipa boiler yang digunakan untuk tempat pembakaran.

Burner    
tempat pembakar serbuk batubara yang disuplai dari Mill.

Pulverizer   
Sebagai penggerus batubara kasar yang disuplai oleh Coal Feeder menjadi serbuk batubara sebelum disalurkan ke burner.

Coal Feeder   
Sebagai pengatur banyaknya barubara yang akan digerus menuju Mill.

Lube Oil Pump 
  
Sebagai pompa sirkulasi minyak pelumas gear box Mill menuju Oil Cooler.

Ignitor   
Pembakaran awal pada start up boiler dengan menggunakan bahan bakar minyak. Selain itu berfungsi sebagai penyulut awal untuk pembakaran batubara pada burner dengan menggunakan minyak

Oil gun
 
Peralatan ignitor yang apabila dioperasikan akan memposisikan insert untuk menyemprotkan minyak dan auxiliary steam secara bersama-sama yang digunakan untuk pembakaran dengan minyak. Apabila setelah selesai dioperasikan maka posisinya akan retract

Continous Blowdown Flash Tank

Berfungsi untuk menampung drain dari Drum Continuous Blowdown yang kualitasnya masih bagus untuk dimanfaatkan lagi sebagai pemanas pada deaerator.

Intermiten blowdown tank   
Berfungsi untuk penampung akhir semua drain dari peralatan boiler yang berhubungan dengan steam.

Flame Scanner    
Pendeteksi nyala api pada burner dan ignitor.

Flame scanner cooling fan   
Fan yang berfungsi sebagai blower untuk mendinginkan peralatan Flame Scanner


Stack   
sebagai cerobong pembuangan gas hasil pembakaran batu bara menuju atmosfir


Read more »

Thursday, January 24, 2019

Apa yang di maksud ash melting?

Apa yang di maksud ash melting?. Secara teori, ash melting diawali dengan proses pembentukan slag yang menempel pada tube boiler yang kemudian terakumulasi dalam jangka waktu lama. Akumulasi slag ini kemudian mengganggu perpindahan panas pada furnace. Dengan adanya gangguan pada perpindahan panas, maka panas hasil pembakaran bahan bakar tidak dapat terserap sepenuhnya, sehingga terjadi kenaikan pada Flue Gas Exit Temperature (FGET). Ketika FGET meningkat melebihi Ash Fusion Temperature (AFT) bahan bakar, maka akan menyebabkan slag meleleh (melting).

Read more »

Wednesday, April 26, 2017

Pengetahuan Dasar Boiler

Boiler berfungsi untuk mengubah air menjadi uap superheat suhu dan tekanan tinggiProses memproduksi uap ini disebut 'Raising Steam "(pembuat uap). Unit / alat yang digunakan untuk membuat uap disebut "Boiler" (Boiler) atau lebih tepat "pembangkit uap(Generator Uap).

Read more »